Hukuman ini Agar Kamu Tertib, Nak!

Seringkali orang tua mengira bahwa disiplin berarti menghukum. Padahal, disiplin sejati adalah proses belajar—bukan memberi rasa takut. Anak-anak usia dini masih belajar tentang dunia, tentang aturan, dan tentang apa yang benar atau salah. Mereka butuh bimbingan penuh kasih agar bisa membuat pilihan yang tepat, bukan hukuman yang membuat mereka takut atau merasa tidak dicintai. Menurut…

Seringkali orang tua mengira bahwa disiplin berarti menghukum. Padahal, disiplin sejati adalah proses belajar—bukan memberi rasa takut.

Anak-anak usia dini masih belajar tentang dunia, tentang aturan, dan tentang apa yang benar atau salah. Mereka butuh bimbingan penuh kasih agar bisa membuat pilihan yang tepat, bukan hukuman yang membuat mereka takut atau merasa tidak dicintai.

Menurut Dr. Jane Nelsen, penulis buku Positive Discipline, “Disiplin positif mengajarkan keterampilan hidup dan membangun hubungan yang penuh rasa hormat antara orang tua dan anak.” Dalam pendekatan ini, orang tua tidak hanya fokus pada perilaku anak saat ini, tapi juga pada pengembangan jangka panjang—seperti tanggung jawab, pengendalian diri, dan rasa empati.

Begitu juga menurut American Academy of Pediatrics (AAP, 2018), disiplin yang efektif adalah disiplin yang:

1. Konsisten (Consistency)

Anak-anak butuh pola yang dapat diprediksi. Jika suatu perilaku dilarang hari ini tapi dibolehkan besok, anak akan bingung. Konsistensi membuat anak tahu apa yang diharapkan dan apa konsekuensinya. Ini membantu mereka belajar mengatur perilakunya sendiri.

Contoh: Jika orang tua berkata “mainan harus dibereskan sebelum tidur”, aturan itu harus diterapkan setiap hari — bukan hanya saat sedang tidak lelah.

2. Adil (Fairness)

Disiplin harus sesuai dengan perilaku anak, bukan karena emosi orang tua. Hukuman berlebihan hanya membuat anak takut, bukan belajar. Anak akan belajar lebih baik jika konsekuensinya masuk akal dan proporsional.

Contoh: Jika anak menumpahkan air dengan sengaja, ajak dia membersihkan bersama, bukan langsung melarangnya minum sendiri.

3. Penuh Kasih (Loving)

Disiplin bukan berarti marah atau menghukum. Anak-anak butuh tahu bahwa mereka tetap dicintai meskipun berbuat salah. Pendekatan yang penuh kasih membantu anak merasa aman, didengar, dan dihargai.

Contoh: Katakan dengan tenang, “Mama tahu kamu kesal, tapi memukul bukan cara yang baik. Ayo kita bicara pelan-pelan.”

4. Disesuaikan dengan Usia (Developmentally Appropriate)

Anak usia dini belum bisa mengontrol emosi dan memahami konsekuensi seperti orang dewasa. Pendekatan disiplin harus mempertimbangkan tahapan perkembangan otak dan emosinya.

Contoh: Anak usia 2 tahun belum bisa duduk tenang 30 menit. Harapan realistis membantu orang tua memilih respons yang tepat, misalnya dengan memberi aktivitas singkat sesuai usianya.

Sebaliknya, hukuman yang keras—seperti bentakan atau hukuman fisik—telah terbukti justru menghambat perkembangan emosional anak dan menimbulkan perilaku agresif di masa depan.

Jadi, mari ubah sudut pandang kita.
Disiplin bukan tentang membuat anak takut.

Disiplin adalah tentang menumbuhkan anak yang tahu mengapa mereka perlu bertindak dengan benar.


Referensi:

1. Nelsen, J. (2006). Positive Discipline.

2. American Academy of Pediatrics. (2018). “Effective Discipline to Raise Healthy Children.” Pediatrics Journal, 142(6).


Leave a comment